Setiap kali Anda berenang, telinga bermasalah. Terasa penuh selama beberapa hari. Kadang nyeri. Kadang keluar sedikit cairan. Dokter selalu mengatakan infeksi telinga, memberikan tetes telinga atau antibiotik, dan Anda sembuh. Tapi siklus ini terus berulang setiap kali Anda masuk kolam renang. Solusi yang paling mudah, yang mungkin sudah Anda pertimbangkan atau bahkan sudah lakukan: berhenti berenang.
Tapi sebelum meninggalkan hobi atau rutinitas olahraga yang Anda sukai — ada pertanyaan penting yang perlu dijawab: infeksi telinga Anda berasal dari mana? Karena jawabannya menentukan apakah Anda benar-benar harus berhenti, atau apakah ada kondisi yang bisa ditangani sehingga Anda bisa kembali berenang dengan aman.
Dua Jenis Infeksi Telinga yang Berbeda Setelah Berenang
Ada dua kondisi yang sangat berbeda yang sering digabungkan ke dalam kategori 'infeksi telinga setelah berenang':
Pertama, otitis eksterna — infeksi pada saluran telinga luar (antara lubang telinga dan gendang telinga). Ini yang paling umum pada perenang dan sering disebut 'swimmer's ear.' Kondisi ini terjadi karena air yang terperangkap di saluran telinga menciptakan lingkungan lembab yang mendukung pertumbuhan bakteri (paling sering Pseudomonas aeruginosa atau Staphylococcus). Gejala khasnya adalah nyeri saat daun telinga ditarik, saluran telinga yang terlihat merah dan bengkak, dan cairan yang cenderung bening atau putih kekuningan.
Kedua, otitis media — infeksi di belakang gendang telinga — yang terjadi saat air masuk ke telinga tengah melalui gendang telinga yang berlubang. Ini kondisi yang berbeda dan lebih serius, karena menunjukkan bahwa ada perforasi (lubang) pada gendang telinga. Cairan yang keluar cenderung lebih banyak, lebih kental, dan sering berbau.
Gendang Telinga Berlubang: Kondisi yang Sering Tidak Disadari
Banyak orang tidak tahu bahwa gendang telinga mereka berlubang sampai air masuk saat berenang dan menimbulkan infeksi. Perforasi gendang telinga bisa terjadi dari: riwayat infeksi telinga tengah yang pernah menyebabkan gendang 'pecah' sendiri (tapi tidak menutup sempurna setelahnya), trauma akustik (suara keras tiba-tiba dekat telinga), trauma fisik, atau perforasi yang sengaja dibuat saat pasang grommet (pipa kecil untuk drainase telinga tengah) yang sudah tidak ada tapi lubangnya belum menutup.
Perforasi kecil mungkin tidak menimbulkan gejala apapun dalam kehidupan sehari-hari — tidak ada nyeri, pendengaran mungkin hanya sedikit berkurang. Tapi saat air masuk ke dalam telinga tengah melalui lubang ini, bakteri dari air kolam atau air laut ikut masuk, memicu infeksi di ruang yang seharusnya steril.
Bagaimana Membedakan Keduanya?
Dari gejala saja, sulit bagi pasien membedakan otitis eksterna dari otitis media dengan perforasi. Tapi ada beberapa petunjuk:
Otitis eksterna biasanya ditandai dengan nyeri yang sangat terasa saat daun telinga atau tragus (tonjolan kecil di depan lubang telinga) ditekan. Tidak ada cairan yang keluar dari dalam telinga, hanya mungkin ada sedikit nanah di saluran luar. Pendengaran mungkin terganggu karena saluran yang bengkak.
Otitis media dengan perforasi lebih sering ditandai dengan cairan yang keluar dari dalam telinga (otorrhea), gangguan pendengaran yang lebih signifikan, dan nyeri yang mungkin lebih dalam dan tidak terlalu terpengaruh oleh penarikan daun telinga.
Namun, pembedaan yang akurat hanya bisa dilakukan dengan pemeriksaan otoskopi oleh dokter yang memeriksa kondisi gendang telinga secara langsung.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Untuk otitis eksterna murni — tidak ada perforasi, gendang telinga utuh — tetes telinga antibiotik topikal adalah penanganan yang efektif. Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan penutup telinga saat berenang, memiringkan kepala untuk mengeluarkan air setelah berenang, dan menggunakan tetes telinga asam asetat encer setelah berenang untuk mencegah pertumbuhan bakteri.
Untuk perforasi gendang telinga — ini kondisi yang perlu penanganan lebih spesifik. Perforasi kecil yang sudah lama dan tidak menyebabkan masalah signifikan mungkin bisa dibiarkan dengan proteksi telinga ketat saat berenang. Tapi perforasi yang terus menyebabkan infeksi berulang, atau yang disertai gangguan pendengaran yang bermakna, adalah kandidat untuk timpanoplasti — operasi untuk menutup lubang gendang telinga.
Dengan teknik endoskopi telinga, timpanoplasti kini bisa dilakukan dengan presisi tinggi dan melalui pendekatan minimal invasif. Setelah gendang telinga tertutup dan sembuh, banyak pasien bisa kembali berenang dengan aman — bukan dengan membatasi olahraga yang mereka sukai, tapi dengan menyelesaikan masalah dari akarnya.
