Pesawat mulai turun mendekati bandara tujuan. Tiba-tiba telinga Anda terasa seperti tertutup rapat — penuh, sedikit nyeri, dan suara terdengar seperti dari dalam wadah. Anda menelan, menguap, mengunyah permen karet. Biasanya semuanya 'pop' dan kembali normal. Tapi kali ini tidak. Anda sudah mendarat dua jam lalu. Telinga masih terasa penuh. Pendengaran masih sedikit teredam. Dan tidak ada tanda-tanda akan pulih sendiri.
Ini bukan pengalaman penerbangan yang buruk biasa. Ini adalah barotrauma telinga yang tidak terselesaikan — dan jika tidak ditangani dengan tepat, bisa berkembang menjadi kondisi yang memerlukan intervensi medis.
Bagaimana Tekanan Udara Mempengaruhi Telinga?
Di antara gendang telinga dan ruang dalam telinga tengah, ada tuba Eustachius — saluran kecil yang menghubungkan telinga tengah dengan nasofaring (bagian belakang hidung). Fungsi utamanya adalah menyamakan tekanan antara telinga tengah dan lingkungan luar.
Dalam kondisi normal, tuba Eustachius terbuka sebentar saat Anda menelan, menguap, atau mengunyah — cukup untuk membiarkan udara masuk atau keluar dan menyeimbangkan tekanan. Di pesawat, selama descent (penurunan ketinggian), tekanan kabin meningkat dengan cepat. Tuba Eustachius harus bekerja lebih keras dan lebih sering untuk menyeimbangkan tekanan yang berubah cepat ini.
Ketika tuba Eustachius tidak bisa membuka dengan cukup cepat — atau tidak bisa membuka sama sekali — tekanan di dalam telinga tengah menjadi lebih rendah dari tekanan luar. Gendang telinga tertarik ke dalam oleh tekanan yang tidak seimbang ini, menciptakan rasa sakit, penuh, dan penurunan pendengaran yang disebut barotrauma.
Kenapa Tuba Eustachius Tidak Bisa Berfungsi Normal?
Ada beberapa kondisi yang membuat tuba Eustachius lebih rentan mengalami disfungsi:
Infeksi saluran napas atas yang aktif — inilah mengapa terbang saat pilek atau sinusitis adalah ide yang buruk. Peradangan di nasofaring menyebabkan pembengkakan di sekitar muara tuba Eustachius, membuatnya lebih sulit dibuka. Rinitis alergi yang tidak terkontrol — peradangan mukosa yang kronis mempengaruhi fungsi tuba secara persisten. Adenoid yang membesar — terutama pada anak-anak, adenoid yang besar bisa secara fisik menghalangi muara tuba Eustachius. Riwayat otitis media berulang — infeksi berulang dapat menyebabkan perubahan pada fungsi tuba secara permanen.
Orang yang terbang dengan salah satu kondisi di atas berisiko lebih tinggi mengalami barotrauma yang lebih berat dan yang tidak sembuh sendiri setelah mendarat.
Apa yang Terjadi Jika Barotrauma Tidak Ditangani?
Barotrauma ringan yang tidak sembuh sendiri bisa berkembang menjadi hemotimpanum — penumpukan darah atau cairan di belakang gendang telinga akibat gendang yang tertarik terlalu keras. Kondisi ini ditandai dengan pendengaran yang teredam, rasa penuh, dan kadang tinitus.
Dalam kasus yang lebih berat, barotrauma bisa menyebabkan perforasi gendang telinga — robekan akibat tekanan yang ekstrem — atau bahkan perilimfatik fistula, kebocoran cairan dari telinga dalam yang bisa menyebabkan gangguan pendengaran mendadak dan vertigo.
Selain itu, barotrauma yang tidak sembuh bisa menjadi titik awal berkembangnya otitis media efusi — cairan yang terperangkap di belakang gendang telinga — yang jika dibiarkan berbulan-bulan dapat berkontribusi pada gangguan pendengaran persisten.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika telinga masih terasa penuh atau pendengaran masih teredam lebih dari 24–48 jam setelah mendarat, ini sudah merupakan indikasi untuk dievaluasi oleh dokter THT. Jangan tunggu lebih lama, terutama jika ada nyeri yang signifikan, tinitus baru, atau perubahan pendengaran yang jelas.
Pemeriksaan otoskopi dan timpanometri (tes fungsi gendang telinga dan telinga tengah) dapat segera menentukan apa yang terjadi di dalam telinga. Jika ada cairan yang terperangkap, dalam banyak kasus bisa ditangani secara efektif — dan semakin cepat ditangani, semakin baik hasilnya.
Mencegah Barotrauma di Penerbangan Berikutnya
Jika Anda rentan terhadap barotrauma atau memiliki riwayat masalah tuba Eustachius, ada langkah yang bisa diambil sebelum penerbangan: konsultasikan dengan dokter THT untuk mendapatkan rekomendasi penggunaan dekongestan nasal sebelum penerbangan, gunakan earplane plug (pelindung telinga khusus penerbangan yang memperlambat perubahan tekanan), dan hindari terbang saat sedang pilek atau sinusitis aktif.
Jika masalah tuba Eustachius Anda sudah kronis dan sering kambuh saat terbang, evaluasi menyeluruh untuk menidentifikasi dan menangani penyebab dasarnya — apakah itu rinitis alergi, sinusitis, atau adenoid — adalah langkah jangka panjang yang paling efektif.
