Tenggorokan sakit lagi. Bukan yang pertama tahun ini.

Sudah ke dokter beberapa kali. Amandel diperiksa — tidak terlalu besar, tidak ada tanda infeksi yang jelas. Antibiotik diberikan, sembuh, lalu beberapa minggu kemudian kambuh lagi.

Dokter kadang bilang “faringitis” — radang faring — tanpa penjelasan yang memuaskan tentang kenapa terus berulang. Karena memang tidak terlihat penyebab yang jelas dari pemeriksaan tenggorokan saja.

Yang perlu diperiksa: kondisi di atas — di hidung dan sinus.

Faring sebagai Korban, Bukan Sumber Masalah

Faring adalah persimpangan antara jalur napas dan jalur makanan — tepat di belakang mulut dan hidung. Semua yang mengalir dari hidung ke bawah melewati faring.

Ketika hidung memproduksi lendir berlebihan atau lendir yang kualitasnya tidak normal — kental, terinfeksi, mengandung banyak bakteri — lendir ini mengalir ke faring sepanjang hari dan malam. Post-nasal drip kronis ini mengiritasi mukosa faring secara konsisten, menciptakan kondisi yang memudahkan infeksi dan peradangan berulang.

Mengobati radang tenggorokannya tanpa menghentikan sumber iritasinya sama seperti mengeringkan lantai tanpa menutup keran yang bocor.

Pola yang Membedakan Faringitis dari Post-Nasal Drip vs Infeksi Primer

Beberapa pola yang lebih mengarah ke faringitis sekunder dari post-nasal drip:

  • Sakit tenggorokan yang lebih berat di pagi hari dan membaik sepanjang hari — karena lendir menumpuk selama malam dan mengiritasi faring sepanjang tidur
  • Rasa perlu membersihkan tenggorokan berulang kali — berdehem, batuk kecil, sensasi ada yang menempel
  • Tidak ada demam tinggi — iritasi kronis biasanya tidak disertai demam seperti infeksi bakteri streptokokus
  • Antibiotik membantu sementara tapi tidak mencegah kambuh — karena bakteri yang dibunuh antibiotik hanya efek, bukan penyebabnya

Kondisi Hidung yang Paling Sering Berkontribusi

Sinusitis kronis yang menghasilkan lendir kental dan terinfeksi secara konsisten adalah penyebab yang paling umum. Selama sinusitisnya tidak ditangani tuntas, faring akan terus mendapat iritasi dari atas.

Rinitis alergi yang tidak terkontrol menghasilkan lendir encer dalam jumlah banyak yang mengalir terus-menerus ke belakang tenggorokan.

Hipertrofi konka yang menyebabkan obstruksi dan memaksa pernapasan lewat mulut menciptakan kekeringan faring yang membuat mukosa lebih rentan terhadap infeksi.

Apa yang Perlu Dievaluasi

Jika faringitis berulang lebih dari 3–4 kali dalam setahun dan pemeriksaan amandel tidak menjelaskan polanya, evaluasi menyeluruh kondisi hidung dan sinus perlu dilakukan: nasoendoskopi untuk melihat kondisi mukosa dan ada tidaknya post-nasal drip aktif, dan CT scan sinus jika ada kecurigaan sinusitis kronis.

Menyelesaikan kondisi yang menjadi sumber iritasi menghentikan siklus — lebih efektif dari antibiotik berulang yang hanya menangani akibatnya.

dr. Guntur Surya SpTHT-KL FICS
Konsultasi Langsung
dr. Guntur Surya, SpTHT-KL, FICS
Spesialis Bedah Endoskopi Sinus dan Telinga · RS Sumber Waras · Konsultasi Online Tersedia
Hubungi Admin untuk Jadwal Konsultasi

Artikel Terkait