Mimisan terjadi lagi. Ini yang ketiga kalinya dalam dua minggu terakhir. Anda memiringkan kepala ke depan seperti yang selalu diajarkan, menjepit hidung, dan menunggu. Sepuluh menit. Darah berhenti. Dan Anda lanjutkan aktivitas seperti biasa, karena 'kan mimisan itu biasa.'

Untuk mimisan sesekali yang berhenti dalam hitungan menit, pernyataan itu mungkin benar. Tapi untuk mimisan yang terus berulang — lebih dari dua kali dalam satu bulan, atau yang berlangsung lebih dari 20 menit, atau yang terjadi di kedua lubang hidung — ada sesuatu yang perlu dievaluasi lebih jauh.

Mengapa Mimisan Terjadi dan Di Mana Letaknya

Sebagian besar mimisan — sekitar 90% — berasal dari area yang disebut pleksus Kiesselbach, sebuah jaringan pembuluh darah halus yang terletak di bagian depan septum hidung (sekat pemisah antara dua lubang hidung). Area ini sangat rentan karena pembuluh darahnya berada dekat permukaan mukosa yang tipis dan sering terekspos udara kering atau trauma ringan seperti menggosok hidung.

Inilah yang disebut epistaksis anterior — mimisan dari bagian depan hidung. Ini yang paling umum, paling mudah berhenti, dan paling jarang berbahaya. Namun ada jenis lain: epistaksis posterior, mimisan dari pembuluh yang lebih besar di bagian belakang hidung. Ini lebih jarang tapi lebih berbahaya — darah bisa mengalir ke tenggorokan, sulit dikendalikan, dan memerlukan penanganan medis segera.

Kapan Mimisan Bukan Lagi 'Biasa'?

Ada beberapa tanda yang mengubah mimisan dari sekadar kejadian biasa menjadi sesuatu yang perlu dievaluasi oleh dokter THT:

Frekuensi: Lebih dari dua kali dalam satu bulan pada orang dewasa yang tidak memiliki riwayat alergi atau kulit kering yang jelas. Durasi: Berlangsung lebih dari 20 menit meskipun sudah dilakukan penekanan yang benar. Volume: Darah yang keluar cukup banyak — merendam lebih dari satu atau dua lembar tisu. Lokasi: Terjadi di kedua lubang hidung sekaligus, atau darah mengalir ke belakang tenggorokan. Konteks: Mimisan terjadi tanpa pemicu yang jelas — bukan karena hidung dikorek, bukan karena udara sangat kering, bukan karena benturan.

Selain faktor-faktor di atas, mimisan yang disertai gejala lain seperti hidung tersumbat terus-menerus di satu sisi, perubahan pada indera penciuman, atau adanya massa yang terasa di dalam hidung, harus segera dievaluasi.

Kondisi yang Bisa Menyebabkan Mimisan Berulang

Pada orang dewasa, mimisan berulang paling sering disebabkan oleh: pertama, mukosa hidung yang kering dan rapuh akibat paparan AC terus-menerus, udara kering, atau penggunaan obat semprot hidung kortikosteroid yang tidak tepat. Ini yang paling umum dan paling mudah ditangani.

Kedua, sinusitis kronis yang menyebabkan peradangan pada mukosa hidung secara terus-menerus, melemahkan pembuluh darah di area tersebut. Ketiga, polip hidung — terutama yang berada di dekat pleksus Kiesselbach — bisa menyebabkan peningkatan vaskularisasi lokal yang membuat pembuluh darah lebih mudah berdarah. Keempat, deviasi septum yang berat menciptakan turbulensi aliran udara yang tidak normal, mengeringkan area tertentu secara berlebihan.

Kelima, dan ini yang tidak boleh terlambat terdiagnosis: neoplasma atau pertumbuhan abnormal di dalam rongga hidung atau sinus. Ini jarang, tapi mimisan berulang yang satu sisi, progresif, dan tidak merespons penanganan standar selalu perlu diinvestigasi untuk menyingkirkan kemungkinan ini.

Faktor Sistemik yang Tidak Boleh Diabaikan

Selain masalah lokal di hidung, ada kondisi sistemik yang bisa menyebabkan mimisan berulang: tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol sering dikaitkan dengan mimisan, meski hubungannya lebih kompleks dari sekadar 'darah tinggi menyebabkan mimisan'. Gangguan pembekuan darah — baik yang bawaan maupun yang didapat, misalnya dari konsumsi pengencer darah — juga dapat memperpanjang durasi dan meningkatkan frekuensi mimisan.

Ini mengapa evaluasi mimisan berulang tidak cukup hanya memeriksa hidung saja. Riwayat medis lengkap, termasuk daftar obat yang dikonsumsi, sangat penting untuk menegakkan diagnosis yang tepat.

Apa yang Dilakukan Dokter THT?

Pemeriksaan hidung dengan nasoendoskopi memungkinkan dokter melihat langsung seluruh rongga hidung, termasuk area posterior yang tidak bisa dijangkau dengan pemeriksaan biasa. Dari sini, dokter bisa mengidentifikasi apakah ada pembuluh darah yang terekspos, polip, deviasi septum yang signifikan, atau tanda-tanda kelainan lain.

Penanganan tergantung pada penyebabnya. Kauterisasi (penutupan pembuluh darah yang berdarah) bisa dilakukan untuk kasus yang spesifik. Untuk kasus yang berkaitan dengan sinusitis atau polip, penanganan sumber masalahnya — termasuk kemungkinan prosedur endoskopi sinus — adalah solusi yang lebih tepat dan lebih permanen.

Mimisan berulang bukan sesuatu yang harus Anda 'terima' sebagai bagian dari hidup. Dengan evaluasi yang tepat, sebagian besar kasus bisa diidentifikasi penyebabnya dan ditangani secara efektif.

dr. Guntur Surya SpTHT-KL FICS
Konsultasi Langsung
dr. Guntur Surya, SpTHT-KL, FICS
Spesialis Bedah Endoskopi Sinus dan Telinga · RS Sumber Waras · Konsultasi Online Tersedia
Hubungi Admin untuk Jadwal Konsultasi

Artikel Terkait