Laporan dari guru selalu variasinya sama: anak tidak fokus, tidak merespons pertanyaan dengan cepat, tampak melamun, atau perlu diulangi berkali-kali sebelum mengerti instruksi.

Sebelum sampai pada kesimpulan tentang motivasi, kematangan emosi, atau kebutuhan bimbingan belajar tambahan — ada satu hal mendasar yang perlu diperiksa terlebih dahulu: apakah anak Anda benar-benar mendengar dengan baik?

Gangguan pendengaran ringan hingga sedang pada anak-anak sangat sering tidak terdeteksi — oleh orang tua, guru, bahkan dokter umum — karena anak masih bisa berkomunikasi dan tidak terlihat “tuli”.

Ambang Batas yang Menipu

Audiometri mengukur ambang pendengaran — level suara terendah yang bisa dideteksi di berbagai frekuensi. Pendengaran normal berada di 0–25 dB. Gangguan ringan dimulai di 26–40 dB.

Dalam kehidupan sehari-hari, gangguan ringan 30–40 dB ini hampir tidak terdeteksi dalam percakapan satu-satu di lingkungan tenang. Anak masih bisa mendengar, menjawab pertanyaan, dan tampak normal.

Tapi di kelas dengan 30 anak, suara guru dari jarak beberapa meter, kebisingan latar dari kursi bergeser dan teman berbisik — sinyal yang diterima anak dengan gangguan pendengaran ringan jauh lebih lemah dari yang diterima teman-temannya. Ia harus bekerja lebih keras untuk memahami, lebih cepat lelah secara kognitif, dan lebih sering melewatkan informasi.

Ini yang terlihat seperti “tidak memperhatikan”.

Penyebab Gangguan Pendengaran pada Anak Usia Sekolah

Dua penyebab yang paling umum dan bisa diperbaiki:

Otitis media efusi (OME) — cairan di telinga tengah tanpa infeksi aktif. Cairan ini meredam konduksi suara, kadang menyebabkan gangguan pendengaran fluktuatif yang datang pergi sesuai dengan volume cairan. Sering terjadi setelah infeksi telinga atau sebagai komplikasi adenoid yang membesar.

Serumen impaksi — kotoran telinga yang mengeras dan menyumbat liang telinga. Ini penyebab yang paling mudah diperbaiki dan paling sering terlewat. Anak tidak mengeluhkan telinga penuh karena sudah terbiasa — kondisi berkembang bertahap sampai cukup untuk mengganggu pendengaran secara signifikan.

Tes Pendengaran Anak: Prosedur yang Tidak Menakutkan

Audiometri pada anak usia sekolah (biasanya ab usia 4–5 tahun ke atas) dilakukan dengan permainan atau instruksi sederhana: angkat tangan saat dengar suara, tekan tombol, atau tunjukkan gambar yang sesuai dengan kata yang didengar.

Untuk anak yang lebih kecil, ada teknik behavioral audiometry dan play audiometry yang tidak memerlukan respons verbal.

Tes ini berlangsung 15–20 menit dan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman apapun. Hasilnya memberikan gambaran yang sangat jelas dan kuantitatif tentang fungsi pendengaran anak.

Intervensi Lebih Awal, Dampak Lebih Kecil pada Perkembangan

Gangguan pendengaran pada masa perkembangan bahasa dan literasi — usia 5–10 tahun — memiliki dampak yang tidak hanya pada kemampuan mendengar, tapi pada perkembangan bahasa, membaca, dan kemampuan akademis secara keseluruhan.

Anak yang terdeteksi dan ditangani lebih awal memiliki peluang lebih baik untuk mengikuti perkembangan teman-temannya tanpa keterlambatan yang sudah terakumulasi.

Sebelum rapat dengan guru tentang performa akademis, pastikan tes pendengaran sudah dilakukan.

dr. Guntur Surya SpTHT-KL FICS
Konsultasi Langsung
dr. Guntur Surya, SpTHT-KL, FICS
Spesialis Bedah Endoskopi Sinus dan Telinga · RS Sumber Waras · Konsultasi Online Tersedia
Hubungi Admin untuk Jadwal Konsultasi

Artikel Terkait