Orang tua atau mertua Anda mulai sering minta diulangi. Volume TV terus dinaikkan. Mereka tidak mendengar saat dipanggil dari ruangan lain. Dan hidung mereka — selalu tersumbat, selalu ada lendir, selalu berair. Ketika Anda menyarankan periksa ke dokter, jawabannya sudah bisa ditebak: 'Ah, sudah tua memang begini. Wajar.'

Ada kebenaran dalam pernyataan itu — penuaan memang membawa perubahan pada telinga dan hidung. Tapi ada perbedaan besar antara perubahan yang memang normal karena penuaan, dan kondisi yang bisa diperbaiki tapi dibiarkan dengan alasan 'sudah tua.' Membedakan keduanya adalah langkah pertama yang penting.

Perubahan THT yang Normal vs. yang Bisa Ditangani

Yang memang berubah karena penuaan: terjadi penurunan sensitivitas sensorineural secara bertahap (presbycusis), di mana kemampuan mendengar frekuensi tinggi (seperti suara wanita dan anak-anak, konsonan seperti 's', 'f', 'th') mulai menurun. Ini adalah proses yang tidak sepenuhnya bisa dibalikkan. Mukosa hidung cenderung lebih kering dan kurang elastis seiring usia.

Yang tidak harus diterima: gangguan pendengaran yang tiba-tiba atau asimetris (satu telinga jauh lebih buruk dari yang lain) — ini bukan presbycusis dan harus dievaluasi. Telinga yang berair atau berbau — ini adalah tanda infeksi atau kondisi yang memerlukan penanganan. Hidung tersumbat yang terus-menerus dan mengganggu kualitas hidup — ada kondisi seperti polip, hipertrofi konka, atau sinusitis kronis yang juga dialami lansia dan bisa ditangani. Serumen (kotoran telinga) yang menumpuk — ini sangat umum pada lansia dan bisa menyebabkan gangguan pendengaran yang signifikan, dan sangat mudah ditangani.

Serumen: Penyebab Gangguan Pendengaran yang Paling Sering Terlewat

Sebelum berbicara tentang kondisi yang lebih kompleks — ada kondisi sangat sederhana yang perlu disebutkan lebih awal: serumen impaksi. Ini adalah penumpukan kotoran telinga yang mengeras di saluran telinga luar hingga menyumbat sebagian atau seluruh saluran.

Pada lansia, serumen lebih mudah mengeras karena kulit yang lebih kering dan rambut telinga yang lebih kaku. Kebiasaan membersihkan telinga dengan cotton bud justru mendorong serumen lebih dalam daripada mengeluarkannya. Hasilnya: gangguan pendengaran yang bisa sangat signifikan — bahkan menyerupai presbycusis berat — yang sebenarnya hanya karena saluran telinga tersumbat kotoran yang mengeras.

Pembersihan serumen yang dilakukan dengan benar oleh dokter THT bisa memberikan perbaikan pendengaran yang dramatis dan instan — seringkali membuat pasien dan keluarga terkejut bahwa selama ini masalahnya 'sesederhana' itu.

Dampak Gangguan Pendengaran yang Tidak Ditangani pada Lansia

Ada data yang mengkhawatirkan tentang konsekuensi jangka panjang gangguan pendengaran yang tidak ditangani pada lansia yang perlu keluarga ketahui:

Isolasi sosial: pendengaran yang buruk membuat percakapan menjadi melelahkan. Banyak lansia dengan gangguan pendengaran secara bertahap menarik diri dari interaksi sosial karena malu sering tidak mendengar atau salah menangkap pembicaraan. Isolasi sosial pada lansia adalah faktor risiko independen untuk depresi dan penurunan kognitif. Penurunan kognitif yang dipercepat: beberapa penelitian menunjukkan asosiasi antara gangguan pendengaran yang tidak ditangani dan risiko demensia yang lebih tinggi. Mekanisme yang diusulkan mencakup penurunan stimulasi auditori ke otak dan beban kognitif ekstra yang dibutuhkan otak untuk 'menebak' percakapan yang tidak terdengar jelas. Risiko jatuh: sistem pendengaran berperan dalam keseimbangan. Gangguan pendengaran juga mengurangi kesadaran terhadap lingkungan sekitar yang bisa membantu mencegah jatuh.

Sinusitis pada Lansia: Berbeda Presentasinya

Sinusitis kronis pada lansia sering memiliki presentasi yang lebih 'tenang' dibanding pada orang yang lebih muda: tidak selalu ada nyeri wajah yang intens, lebih banyak berupa kelelahan kronis, post-nasal drip, dan batuk malam yang mengganggu. Ini membuat diagnosis lebih sering terlewat.

Yang perlu diperhatikan: pada lansia dengan komorbiditas seperti diabetes atau yang mengkonsumsi obat-obatan imunosupresif, infeksi sinus yang awalnya tampak ringan bisa berkembang lebih cepat dan lebih serius dari yang diperkirakan.

Pendekatan yang Tepat: Komprehensif, Bukan 'Untuk Apa Diobati'

Menangani kondisi THT pada lansia bukan bermewahan atau mengejar kesempurnaan yang tidak perlu. Ini tentang mempertahankan kualitas hidup, kemandirian, dan keterhubungan sosial yang penting bagi kesehatan holistik di usia tua.

Evaluasi THT pada lansia — termasuk audiometri, pemeriksaan telinga, dan jika perlu, evaluasi hidung dan sinus — adalah investasi yang sangat berharga. Dan banyak kondisi yang ditemukan bisa ditangani dengan intervensi yang ringan, efektif, dan aman bahkan pada usia lanjut.

dr. Guntur Surya SpTHT-KL FICS
Konsultasi Langsung
dr. Guntur Surya, SpTHT-KL, FICS
Spesialis Bedah Endoskopi Sinus dan Telinga · RS Sumber Waras · Konsultasi Online Tersedia
Hubungi Admin untuk Jadwal Konsultasi

Artikel Terkait